Kec. Dungkek Kab. Sumenep

Sumber Daya Manusia di Desa Bicabi Dungkek Sumenep

Penduduk Desa Bicabbi sebanyak 1.503 jiwa, yang terdiri dari 682 jiwa laki-laki dan sebanyak 821 jiwa perempuan. Masyarakat Desa Bicabbi Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep memiliki potensi dalam peranannya sebagai makhluk sosial yang adaptif (kemampuan seseorang untuk mengatasi secara efektif terhadap keadaan-keadaan yang tengah terjadi dalam masyarakat lingkungannya). Hal ini dapat dilihat dari kemampuan masyrakat yang mampu mengelolah dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di dalam alam sekitar demi tercapainya kesejahteraan dan kelangsungan dalam tatanan sosial yang seimbang dan berkelanjutan.
Masyarakat di desa ini rata-rata bekerja sebagai petani/pekebun/peternakan. Kemampuan bertani yang diturunkan oleh orang tua kepada anak cucu jumlah petani di Desa Bicabbi sebanyak 642 jiwa. Pertanian tersebut antara lain bertani kacang kayu dan juga siwalan. Uniknya pohon siwalan disini tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu ditanam. Pohon-pohon tersebut dimanfaatkan dengan mengambil air niranya kemudian diolah menjadi gula siwalan (mirip gula batok jawa), daunnya dapat digunakan sebagai anyaman topi dan sebagainya, buahnya sendiri dapat di jadikan makanan yang dapat langsung dikonsumsi. Selain bertani masyarakat juga berwirausaha dengan memproduksi gula siwalan seperti yang telah disebutkan diatas, membuat sapu dari lidi, dan membuat sapu dari sabut kelapa. Berikut proses dan penjelasan kewirausahaan masyarakat Desa Bicabbi:
1.      Gula Siwalan
Produksi gula siwalan masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tungku dan kuali besar, bahan bakar yang digunakan selama proses pembuatan hanya menggunakan kayu bakar serta daun-daun kering. Pembuatan yang dilakukan secara tradisional akan menghasilkan gula merah siwalan menjadi lebih harum dan manis. Gula merah siwalan terbuat dari sadapan air nira pohon siwalan, dalam bahasa setempat nira siwalan disebut dengan “la’ang”.  La’ang segar bisa langsung diminum atau dinikmati dengan tambahan es batu, rasanya manis dan segar akan tetapi la’ang cepat sekali basi, kesegaran la’ang bisa bertahan kurang lebih satu hari.  Air la’ang yang sudah basi disebut “tuak” karena mengandung banyak alkohol dan cuka,  air tuak tidak bisa dipakai sebagai bahan  baku gula merah karena jika dipakai mutu gula yang dihasilkan tidak bagus. Air la’ang diperoleh dari pohon siwalan.
Proses pembuatan gula siwalan, air  La’ang direbus hingga mengental dan warna menjadi kecoklatan untuk mengukur kekentalan, la’ang direbus sampai volume tersisa seperempat, kemudian diaduk sampai dapat dicetak. Proses pembuatan gula siwalan  berlangsung kurang lebih selama 4 sampai 5 jam. Masyarakat dapat menghasilkan gula siwalan sebanyak 8 hingga 10 Kg dalam satu hari. Biasanya hasil gula siwalan dijual ke pengepul dengan harga per kilogramnya sebesar Rp 12.500,- hingga Rp 14.000,-. Harga gula tersebut dapat berubah sesuai dengan keadaan dan musim. Harga gula juga akan berubah ketika pemasaran dilakukan oleh pengepul. 


2.      Sapu Lidi
Sapu lidi adalah sapu tradisional yang dikenal oleh kebanyakan orang. Sapu ini terbuat dari daun kelapa yang dikeringkan dan diambil bagian tengah daun yang menyerupai kayu kecil. Beberapa usaha kecil milik masyarakat Bicabbi juga memproduksi sapu lidi seperti kebanyakan yang beredar di pasaran. Salah satu pengusaha sapu lidi di Desa Bicabbi memaparkan bahwa lidi yang diproses adalah bukan lidi dari hasil mereka sendiri. Mereka membeli lidi tersebut kemudian diproses lagi. Satu ikat lidi sebagai bahan utama dibeli dengan harga sebesar dua ribu rupiah. Sapu lidi yang telah diproses ke bentuk yang lain dijual dengan harga dua ribu lima ratus. Kemudian sapu lidi dengan kualitas yang lebih baik lagi dijual sebesar dua belas ribu rupiah. Sapu lidi dengan harga dua belas ribu rupiah tersebut dibentuk seperti sapu yang digunakan oleh pasukan kuning. Dari Desa Bicabbi sapu tersebut dirangkai dan kemudian dijual ke Surabaya untuk disempurnakan bentuknya hingga harga jual dari Surabaya akan lebih tinggi lagi dari harga sebelumnya.
Proses pembuatan sapu lidi, ambil daun kelapa, setelah itu bersihkan daunnya dari tepi-tepi lidi tersebut sampai bersih, jika sudah bersih lalu kumpulkan lidi-lidi yang sudah dibersihkan daunnya dari lidi tersebut, lidi tersebut kemudian dipisahkan lalu pilih anatara lidi yang panjang dengan yang pendek, untuk hasil lidi yang lebih bagus dijemur terlebih dahulu, kemudian ikat dalam jumlah minimal 70 batang lidi. Sapu lidi ini bisa digunakan untuk sapu kasur namun jumlah lidi yang digunakan tidak sebanyak lidi unuk membua sapu, untuk ukuran disesuaikan dengan kebutuhan.
Dalam satu hari seorang pekerja dapat menghasilkan kurang lebih mencapai 50 biji sapu untuk dikirim ke Surabaya. Satu kali pengiriman yang dilakukan bisa mencapai kurang lebih 1.500 biji sapu. Sehingga omset penjualan sekali kirim kurang lebih mencapai Rp 18.000.000,-.
3.      Sapu Serabut Kelapa
Bagi sebagian besar masyarakat serabut kelapa merupakan limbah, tetapi bagi masyarakat desa Bicabbi serabut kelapa merupakan bahan baku utama untuk pembuatan sapu. Desa Bicabbi selain beberapa warganya berwirausaha memproduksi sapu lidi juga memproduksi sapu yang terbuat dari serabut kelapa ini. Proses pembuatan serabut kelapa ini lebih banyak memakan waktu jika dibandingkan dengan proses pembuatan sapu lidi. Serabut kelapa yang baik dapat diperoleh dengan merendam serabut kelapa di bawah pasir laut selama 4 hingga 8 bulan. Kemudian serabut di pukul-pukul supaya daging serabut dapat terurai. Setelah terurai serabut kelapa dijemur sampai kering. Barulah setelah kering serabut di rapikan dan dibentuk seperti sapu.
Pembuat sapu dari serabut ini, membeli bahan baku dengan harga Rp 20,- per satu kulit kelapa yang belum direndam dan harga Rp 1.000,- untuk satu kulit kelapa yang sudah direndam. Untuk tali tampar seharga Rp 10.000,- bisa dipakai untuk 50 sapu. Harga bambu yang dipergunakan sebagai gagang sapu dibeli dengan harga Rp 300,- per gagang. Keuntungan penjual sapu dari serabut kelapa ini adalah setengah dari modal awal. Modal per sapu serabut kelapa seharga Rp 2000,- dan dijual ke konsumen dengan harga Rp 4000,-.
Dari penjelasan yang telah dipaparkan diatas terlihat bahwa masyarakat Desa Bicabbi memiliki kesinambungan pekerjaan yang mereka tekuni. Dengan memiliki perkebunan siwalan masyarakat pun juga berwirausaha dengan memproduksi gula siwalan. Terkait dengan keberlangsungan usaha yang ada di Desa Bicabbi, usaha-uasaha kecil yang ada di Desa belum seluruhnya memiliki ijin usaha seperti SIUP maupun TDP. Hal tersebut dikarenakan bentuk usaha yang masih perorangan dan skala pemasaran serta proses produksi yang masih tradisional. Masyarakat masih menganggap belum membutuhkan perizinan semacam itu. Menurut kepala Sub Bidang Penetapan dan Penerbitan Izin, Bapak Kukuh Agus Susyanto, SE, MH menyebutkan bahwa idealnya sebuah usaha memang harus memiliki izin usaha, akan tetapi jika usaha yang dilakukan masyarakat masih dalam skala pemasaran kecil (lokal dalam pasar) dan alat produksi yang digunakan juga masih tradisional maka masih dapat dikatakan aman meski tanpa perizinan.    


0 comments:

Post a Comment

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: Support@templateism.com

Our Team Memebers