Kec. Dungkek Kab. Sumenep

Siwalan menjadi Potensi Sumber Daya Unggulan di Desa Bicabbi


Si manis kaya manfaat : Siwalan menjadi Potensi Sumber Daya Unggulan Di Desa Bicabbi

Selasa, 01 Agustus 2017
Lontar atau yang biasa disebut sebagai siwalan adalah salah satu produk pertanian yang dihasilkan oleh mayoritas masyarakat di Desa Bicabbi Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep. Lontar atau siwalan biasanya diambil air nira nya oleh masyarakat untuk dijadikan gula aren, ini enjadi salah satu pekerjaan rutin yang dilakukan oleh warga. Hasil penjualan siwalan tentu tidak sebanding dengan tenaga untuk mencari air nira nya.
Selain air nira, siwalan juga dimanfaatkan daging bauhnya untuk dikonsumsi secara langsung maupun diolah menjadi makanan sepeti dodol siwalan. Masyarakat sekitar tidak terlalu fokus terhadap olahan siwalan ini. Kebanyakan petani siwalan tidak memanfaatkan sendiri buah siwalan nya, karena SDM yang tidka mumpuni menyebabkan masyarakat kekurangan ide dan alat untuk memproduksi makanan olahan berbahan dasar siwalan.
Tanaman siwalan berbuah setiap hari, tanaman ini tidak bergantung dengan musim. Menurut pengakuan beberapa petani siwalan, pada musim penghujan biasanya produksi buah siwalan dan air nira agak berkurang dibanding dengan musim kemarau. Sehingga penghasilan masyarakat yang biasa menggunakan air nira untuk dijadikan gula aren semakin berkurang.
Untuk buah siwalan sendiri, biasanya oleh masyarakat hanya dibiarkan jatuh ke tanah. Terkadang buah siwalan yang sudah tua dan jatuh digunakan untuk pakan sapi. Sayang sekali potensi pertaian yang besar sepertti ini kurang dimanfaatkan oleh masyarakat karena keterbatasan sumber daya manusia dan kurangnya pengetahuan masyarakat aka n kegunaan lain dari tanaman yang sejenis dengan kelapa ini. Sehingga, teman-teman KKN dari kelompok 71 Universitas Trunojoyo Madura mencoba untuk membuat salah satu produk olahan Siwalan yaitu SELAI SIWALAN.

 Pada acara perkenalan produk yang dilakukan oleh teman-teman KKN,beberapa aparat desa dan tokoh masyarakat setempat memberikan feedback yang positif terkait dengan pengolahan buah siwalan menjadi produk SELAI SIWALAN ini. Mereka berharap bahwa kedepannya produk selai siwalan ini dapat menjadi produk unggulan desa yang bisa diproduksi secara massal agar bisa berkembang dan bisa menyejahterakan masyarakat desa Bicabbi. Dengan komposisi dan pengolahan yang lebih baik serta dengan alat yang lebih canggih dan penjaminan mutu yang baik dari pemerintah daerah, diharapkan produk SELAI SIWALAN ini bisa menjadi produk bernilai jual tinggi.

Sosialisasi Pengaruh Konten Pornografi Terhadap Psikologi Remaja dan Bahaya Seks Bebas

Sosialisasi Pengaruh Konten Pornografi Terhadap Psikologis Remaja dan Bahaya Seks Bebas

Minggu, 30 Juli 2017

Pagi yang cerah menemani teman-teman SMP dan SMA sederajat yang sedang mengikuti kegiatan sosialisasi di balai desa Bicabbi. Sosialisasi yang sedang dilaksanakan berkaitan dengan adanya dampak dari pergaulan remaja yang bebas tanpa batas. Acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN UTM Kelompok 71 bekerjasama dengan aparat desa Bicabbi dan diikuti oleh siswa siswi SMP dan SMA sederajat yang ada di desa Bicabbi ini bertema “Sosialisasi Pengaruh Konten Pornografi Terhadap Psikologis Remaja dan Bahaya Seks Bebas”. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tambahan mengenai bahaya seks bebas dan bagaimana konten pornografi mempengaruhi tindakan seks bebas di kehidupan remaja kita saat ini.
Kita semua telah mengetahui bahwasanya internet merupakan salah satu hasil revolusi teknologi, dimana internet saat ini menjadi salah satu perangkat teknologi yang mengglobal. Internet membuat dunia yang luas ini menjadi satu genggaman. Semua pekerjaan manusia dimudahkan dengan adanya penemuan internet.
Internet pada perkembangannya membawa dampak-dampak yang serius bagi kehidupan manusia, internet membawa dampak yang positif, salah satu dampak positif yang dihasilkan oleh internet adalah mulai munculnya toko toko online dan beberapa aplikasi pencarian yang memudahkan segala urusan manusia. Di bidang pendidikan, pembelajaran juga semakin merambah ke dunia internet, penggunaan media pembelajaran yang berbasis internet sekarang ini sering digunakan oleh para pengajar pengajar muda yang berorientasi ke pemikiran modern.
Memang banyak dampak positif yang dihasilkan oleh internet, tapi hal ini tidak berarti internet selalu membawa dampak positif bagi manusia. Penemuan menyatakan bahwa ternyata dampak negatiif internet lebih banyak dibandingkan dengan dampak positif nya. Dampak negatif internet salah satunya adalah yang dibahas pada sosialisasi hari ini terkait dengan pengaruh konten pornografi terhadap psikologis remaja dan bahaya seks bebas. Mengapa konten pornografi dapat mempengaruhi psikologis remaja?
Remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju ke dewasa, biasanya masa remaja kisaran pada umur 12-19 tahun. Pada masa ini, seseorang akan merasa inginn tahu, merasa ingin dimengerti oleh orang lain dan merasa ingin difahami oleh orang lain. Dengan adanya rasa ingin tahu dan dibantu oleh adanya media sosial, konten pornografi bisa dengan mudah tersebar. Usia muda, usia remaja adalah masa-masa dimana seksualitas masih menggeb-gebu. Tetapi kemampuan biologis seksualitas remaja tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup untuk melakukan kegiatan seks. Pada umur tertentu, seksualitas menjadi sangat dibutuhkan terlebih pada masa-masa pubertas pertama dan pubertas kedua. Tetapi seksualitas pada remaja yang tidak dikontrol kemudian yang dapat menjurus pada seks bebas, apabila terus dilakukkan berulang-ulang maka dapat terjangkit viirus ganas yang biasa disebut HIV. Ini adalah penyakit yang menyerang kkekebalan sistem imun tubuh.
Bagaimana cara agar remaja dapat terjauh dari bahaya seks bebas dan kecanduan terhadap konten pornografi?. Pendidikan merupakan salah satu cara yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pendidikan yang dimaksud bisa dikategorikan pada pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal misalnya adalah pendidikan seks sejak dini yang diberikan di sekolah. Selain itu, peran orang tua sebagai lembaga nonformal juga sangat diperlukan sebagai kontrol perilaku anak. Orangtua adalah orang terdekat yang selalu memberikan support apapun untuk anak, baiknya orang tua harus selalu memantau perkembangan psikologis dan tumbuh kembang anaknya baik itu pergauan dengan teman sebaya di sekkolah maupun di masyarakat. Anak yang selalu diperhatikan oleh orang tua biasanya mereka merasa dimengerti dan tidak prlu mencari perhatian kepada orang lain di luar keluarganya, sehingga mereka bisa terbebas dari pergaulan dan seks bebas. Anak yang jarang dipantau dan diperhatikan oleh orang tua biasanya cenderung mencari perhatian dari orang lain sehingga mereka lebih mudah terjerumus.
Dari kedua sumber diatas, kontrol masyarakat adalah salah satu point penting dimana pergaulan remaja di masyarakat dapat diketahui, masyarakat disini berperan penting untuk memantau pergerakan pemuda-pemudi agar selalu berada pada arah positif dan bisa memajukan daerahnya tidak malah membuat nama daerah tempat tinggalnya menjadi tercemar karena hal-hal yang buruk. Kontrol diri sendiri juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan oleh remaja saat ini. Kontrol diri yang dimaksud adalah dengan selalu berfikir yang positif, melakukan filter terhadap pemilihan teman dalam bergaul dan selalu taat terhadap perintah agama dan orang tua. Menempuh pendidikan dengan baik dan disiplin adalah kunci kesuksesan pemuda penerus bangsa. Pemuda Indonesia adalah pemuda yang cinta dengan harga dirinya.


Asal Usul Desa Bicabbi

Penduduk desa Bicabbi dahulu pernah mengalami keadaan ekonomi yang sangat miskin seperti di daerah-daerah lain. Cuaca selalu mempengaruhi kehidupan di masyarakat. Di musim panas sinar matahari masuk ke dalam kamarnya, terlebih pada musim hujan masuk juga ke dalam kamarnya mereka sangat sulit untuk isitirahat di dalam rumahnya masing-masing. Di antara mereka ada keluarga K. Jali dan Nyai Jali, mereka sangat sabar menekuni hidupnya walaupun hidup serba kekurangan. Suatu saat ada rombongan musafir kehujanan yang kebetulan ada di dekat rumah K. Jali tersebut (Sekarang Dusun Buddagan), dengan penuh ketulusan K. Jali menghampiri musafir tersebut dan mengajaknya berteduh di rumahnya, kemudian musafir tersebut menurut. Hujan deras terjadi selama tujuh hari tujuh malam. K.Jali merasa tidak enak kepada musafir tersebut karena tidak punya apapun untuk disuguhkan kepada musafir itu, mereka tidak bisa istirahat dengan tenang karena kehujanan terus menerus sampai lantai rumah tanah digenangi air terus menerus selama satu minggu. Beberapa hari kemudian hujan mulai reda, selang beberapa hari mulailah tumbuh bibit-bibit “Cabbhi” (Lombok) di dalam rumah K. Jali, maklum rumah K. Jali saat itu masih berlantai tanah dan tidak ada bedanya dengan rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Hari terus berganti, bibitpun semakin besar dan berbuah dengan subur, sehingga kehebohan ini sampai ke desa-desa lain khususnya di wilayah “Dungkek” saat ini, beberapa rombongan prajurit Sumenep saat itu datang berbondong-bondong untuk melihat secara langsung kejadian ini. Saat itu pula rombongan prajurit tersebut heran kenapa pohon “Cabbhi” itu hanya tumbuh di dalam rumah K. Jali sehingga penduduk setempat memberi nama kampung itu dengan nama kampung Bicabbi (Desa Bicabbi) seperti yang dinamakan saat ini, namun muncul berbagai versi yang juga menceritakan tentang asal usul Desa Bicabbi.

Sejarah Pemerintahan Desa

Desa Bicabbi terdiri dari 5 dusun, antara lain :
1. Dusun Budaggan
2. Dusun Pasisir
3. Dusun Somor Dalam
4. Dusun Gunung
5. Dusun Bara’ Lorong
Sejak zaman penjelajahan belanda, Bicabbi sudah dipimpin oleh kepala desa, berikut adalah nama-nama kepala desa yang pernah menjabat di Bicabbi :
  1. Lumrah
Kepala desa pada zaman penjajahan Belanda.
  1. Suwalep
Bapak Suwalep atau Singopekso adalah saudara kandung dari Bapak Lumrah, merupakan kepala desa yang ditunjuk pemerintah RI yang disebut kepala desa Caretaker, menjabat dari tahun 1948-1971.
  1. Moh. Wari / H. Anwari
Bapak Moh. Wari punya julukan Singoadiputro, yang merupakan anak dari Suwalep, dipilih oleh masyarakat menjabat dari tahun 1971 sampai 1991 kurang lebih 20 tahun (periode I), tahun 1991-1999 (periode II), dan tahun 1999-2007 (periode III).
  1. Fara’id
Bapak Farai’ida adalah anak dari H. Anwari dipilih langsung oleh masyarakat, kali ke dua kepemimpinan Bapak Fara’id telah menjabat kepala desa Bicabi sejak pada tanggal 17 Februari 2007 sampai sekarang kurang lebih 10 tahun. Sebelum tahun 1971 tepatnya pemerintahan Bapak Suwalep pemerintahan desa Bicabbi dalam kepemimpinannya dibantu oleh :
  1. Carik (Sekdes)
  2. Petinggi
  3. Madin
  4. Apel
Setelah tahun 1971 tepatnya pada masa pemerintahan bapak Moh. Wari pemerintahan desa Bicabbi dalam kepemimpinan kepala desa dibantu oleh :
    1. Sekretaris desa
    2. 5 orang Kaur (Kaur Keuangan, Kaur Kesra, Kaur Pemerintahan, Kaur Pembangunan, dan Kaur Umum)
    3. 5 orang Kepala dusun

Perlengkapan lainnya yaitu Linmas. Tahun 1971 Linmas masih bernama Hansip (Pertahanan Sipil).

FORUM DISKUSI DENGAN PERANGKAT DESA BICABBI

Pada hari kamis 20 Juli 2017 merupakan acara progam kerja forum diskusi dengan aparatur desa dengan tema “perkenalan mahasiswa kkn trunojoyo madura & sharing haring dengan aparatur desa” acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan anggota kkn mahasiswa utm kepada aparat desa dan masyarakat desa bicabbi sekaligus mendemontrasikan progam kerja dari kkn kelompok 71.
Alhamdulillah progam ini diapresiasi dengan sangat baik dan menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa kkn dengan masyarakat bicabbi beserta perangkat desanya, dengan progam ini kita menjadi tau hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan adanya mahasiswa kkn.
Dalam acara ini dihadiri oleh perangkat desa, anggota BPD, pendamping desa, kepala dusun dari masing-masing dusun yang ada di bicabbi, tokoh masyarakat dari masing-masing dusun yang ada di bicabbi, dan tak lupa lupa mahasiswa kkn kelompok 71.
Dengan adanya progam ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah seputar pengetahuan karena di desa bicabbi mempunyai potensi SDA yang melimpah seperti: kelapa, siwalan, dan lautnya. Akan tetapi, pengetahuan akan cara pengolahannya agar menjadi suatu olahan lain yang bernilai jual tinggi masih kurang, di bicabbi kelapa hanya dijual saat masih usia muda adapun serabutnya hanya diolah menjadi sapu akan tetapi itupun tidak bisa diolah secara sempurna dan mandiri, masyarakat masih membutuhkan bantuan dari orang surabaya untuk menyatukan gagang sapu dengan kepala sapunya sehingga harga jualnyapun masih sangat rendah. Siwalan hanya diambil air niranya saja untuk dijadikan gula merah sedangkan buahnya tidak dimanfaatkan sebagai olahan apapun melainkan dijadikan sebagai makanan sapi, sedangkan ikan hanya untuk dikonsumsi sebagai lauk sehari-hari dan selebihya dijual biasa kepasar.
Semoga dengan adanya kami mahasiswa kkn kelompok 71 bisa bermanfaat dan memberikn inovasi-inovasi baru kepada masyarakat bicabbi untuk meningkstnksn pendapatan ekonomi masyarakatnya karena sebaik-sebaiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain.



UPACARA PENYAMBUTAN MAHASISWA KKN UTM DI KECAMATAN DUNGKEK

UPACARA PENYAMBUTAN MAHASISWA KKN UTM DI KECAMATAN DUNGKEK.
Sumenep, 18 Juli 2017
Tepat pukul 11.00 acara pertama mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura di wilayah kecmatan Dungkek dimulai, agenda pertama yaitu upacara penyambutan oleh Aparatur Kecamatan Dungkek. Acara ini bertempat di pendopo kantor kecamatan Dungkek, dihadiri oleh seluruh mahasiswa yang mengikuti program KKN di kecamatan ini. Kurang lebih 15 kelompok disebar ke 15 desa di kecamatan Dungkek. Beberapa wejangan sempat disampaikan oleh anggota LPPM Universitas Trunojoyo Madura, yang pertama adalah bagaimana mahasiswa dpat menghasilkan output yang bisa digunakan oleh masyarakat :
  1. Buku desa
  2. Produk olahan (potensi desa)
  3. web desa
  4. MOU
pengabdian diharapkan dapat berjalan dan berproses. Jadi tidak berhenti sampai disitu. selanjutnya, mahasiswa KKN diharapkan untuk menjaga nama baik diri sendiri, keluarga, almamater dan Universitas Trunojoyo Madura adalah salah satu hal yang diutamakan dalam program KKN. Bapak camat juga menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seluruh Mahasiswa KKN di kecamatan Dungkek
Berperan serta, membangun dan pengabian kepada masyarakat. Berbicaratentang masyarakat adalah hal yang kompleks. dari berbagai bidang keahlian yang ada seharusnya mahasiswa bisa membimbing masyarakat untuk menangani beberapa permasalahan yang ada di desa. jangan memaksakan masyarakat untuk bekerja sesuai dengan yang kalian inginkan, ibarat ikan yang dipaksa memanjat pohon kelapa. Tetapi dengan pola pikir mahasiswa yang berwawasan lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat desa, maka hendaknya pendekatan yang harus dilakukan oleh mahasiswa adalah pendekatan yang sesuai. yang sesuai artinya pendekatannya harus tepat, apabila kita lihat bahwa dalam masyarakat memiliki struktur sosial dan budaya yang berbeda. maka dari itu mahasiswa harus memikirkan bagaimana setiap struktur sosial masyarakat mendapatkan pendekatan yang sesuai demi berlangsungnya kegiatan pengabdian teman-teman sekalian”

wejangan dari bapak camat sekaligus menutup acara penyambutan teman-teman mahasiswa yang akan melakukan kegiatan KKN di kecamatan Dungkek. Acara selesai pada pukul 13.00 WIB.



Sumber Daya Manusia di Desa Bicabi Dungkek Sumenep

Penduduk Desa Bicabbi sebanyak 1.503 jiwa, yang terdiri dari 682 jiwa laki-laki dan sebanyak 821 jiwa perempuan. Masyarakat Desa Bicabbi Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep memiliki potensi dalam peranannya sebagai makhluk sosial yang adaptif (kemampuan seseorang untuk mengatasi secara efektif terhadap keadaan-keadaan yang tengah terjadi dalam masyarakat lingkungannya). Hal ini dapat dilihat dari kemampuan masyrakat yang mampu mengelolah dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di dalam alam sekitar demi tercapainya kesejahteraan dan kelangsungan dalam tatanan sosial yang seimbang dan berkelanjutan.
Masyarakat di desa ini rata-rata bekerja sebagai petani/pekebun/peternakan. Kemampuan bertani yang diturunkan oleh orang tua kepada anak cucu jumlah petani di Desa Bicabbi sebanyak 642 jiwa. Pertanian tersebut antara lain bertani kacang kayu dan juga siwalan. Uniknya pohon siwalan disini tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu ditanam. Pohon-pohon tersebut dimanfaatkan dengan mengambil air niranya kemudian diolah menjadi gula siwalan (mirip gula batok jawa), daunnya dapat digunakan sebagai anyaman topi dan sebagainya, buahnya sendiri dapat di jadikan makanan yang dapat langsung dikonsumsi. Selain bertani masyarakat juga berwirausaha dengan memproduksi gula siwalan seperti yang telah disebutkan diatas, membuat sapu dari lidi, dan membuat sapu dari sabut kelapa. Berikut proses dan penjelasan kewirausahaan masyarakat Desa Bicabbi:
1.      Gula Siwalan
Produksi gula siwalan masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tungku dan kuali besar, bahan bakar yang digunakan selama proses pembuatan hanya menggunakan kayu bakar serta daun-daun kering. Pembuatan yang dilakukan secara tradisional akan menghasilkan gula merah siwalan menjadi lebih harum dan manis. Gula merah siwalan terbuat dari sadapan air nira pohon siwalan, dalam bahasa setempat nira siwalan disebut dengan “la’ang”.  La’ang segar bisa langsung diminum atau dinikmati dengan tambahan es batu, rasanya manis dan segar akan tetapi la’ang cepat sekali basi, kesegaran la’ang bisa bertahan kurang lebih satu hari.  Air la’ang yang sudah basi disebut “tuak” karena mengandung banyak alkohol dan cuka,  air tuak tidak bisa dipakai sebagai bahan  baku gula merah karena jika dipakai mutu gula yang dihasilkan tidak bagus. Air la’ang diperoleh dari pohon siwalan.
Proses pembuatan gula siwalan, air  La’ang direbus hingga mengental dan warna menjadi kecoklatan untuk mengukur kekentalan, la’ang direbus sampai volume tersisa seperempat, kemudian diaduk sampai dapat dicetak. Proses pembuatan gula siwalan  berlangsung kurang lebih selama 4 sampai 5 jam. Masyarakat dapat menghasilkan gula siwalan sebanyak 8 hingga 10 Kg dalam satu hari. Biasanya hasil gula siwalan dijual ke pengepul dengan harga per kilogramnya sebesar Rp 12.500,- hingga Rp 14.000,-. Harga gula tersebut dapat berubah sesuai dengan keadaan dan musim. Harga gula juga akan berubah ketika pemasaran dilakukan oleh pengepul. 


2.      Sapu Lidi
Sapu lidi adalah sapu tradisional yang dikenal oleh kebanyakan orang. Sapu ini terbuat dari daun kelapa yang dikeringkan dan diambil bagian tengah daun yang menyerupai kayu kecil. Beberapa usaha kecil milik masyarakat Bicabbi juga memproduksi sapu lidi seperti kebanyakan yang beredar di pasaran. Salah satu pengusaha sapu lidi di Desa Bicabbi memaparkan bahwa lidi yang diproses adalah bukan lidi dari hasil mereka sendiri. Mereka membeli lidi tersebut kemudian diproses lagi. Satu ikat lidi sebagai bahan utama dibeli dengan harga sebesar dua ribu rupiah. Sapu lidi yang telah diproses ke bentuk yang lain dijual dengan harga dua ribu lima ratus. Kemudian sapu lidi dengan kualitas yang lebih baik lagi dijual sebesar dua belas ribu rupiah. Sapu lidi dengan harga dua belas ribu rupiah tersebut dibentuk seperti sapu yang digunakan oleh pasukan kuning. Dari Desa Bicabbi sapu tersebut dirangkai dan kemudian dijual ke Surabaya untuk disempurnakan bentuknya hingga harga jual dari Surabaya akan lebih tinggi lagi dari harga sebelumnya.
Proses pembuatan sapu lidi, ambil daun kelapa, setelah itu bersihkan daunnya dari tepi-tepi lidi tersebut sampai bersih, jika sudah bersih lalu kumpulkan lidi-lidi yang sudah dibersihkan daunnya dari lidi tersebut, lidi tersebut kemudian dipisahkan lalu pilih anatara lidi yang panjang dengan yang pendek, untuk hasil lidi yang lebih bagus dijemur terlebih dahulu, kemudian ikat dalam jumlah minimal 70 batang lidi. Sapu lidi ini bisa digunakan untuk sapu kasur namun jumlah lidi yang digunakan tidak sebanyak lidi unuk membua sapu, untuk ukuran disesuaikan dengan kebutuhan.
Dalam satu hari seorang pekerja dapat menghasilkan kurang lebih mencapai 50 biji sapu untuk dikirim ke Surabaya. Satu kali pengiriman yang dilakukan bisa mencapai kurang lebih 1.500 biji sapu. Sehingga omset penjualan sekali kirim kurang lebih mencapai Rp 18.000.000,-.
3.      Sapu Serabut Kelapa
Bagi sebagian besar masyarakat serabut kelapa merupakan limbah, tetapi bagi masyarakat desa Bicabbi serabut kelapa merupakan bahan baku utama untuk pembuatan sapu. Desa Bicabbi selain beberapa warganya berwirausaha memproduksi sapu lidi juga memproduksi sapu yang terbuat dari serabut kelapa ini. Proses pembuatan serabut kelapa ini lebih banyak memakan waktu jika dibandingkan dengan proses pembuatan sapu lidi. Serabut kelapa yang baik dapat diperoleh dengan merendam serabut kelapa di bawah pasir laut selama 4 hingga 8 bulan. Kemudian serabut di pukul-pukul supaya daging serabut dapat terurai. Setelah terurai serabut kelapa dijemur sampai kering. Barulah setelah kering serabut di rapikan dan dibentuk seperti sapu.
Pembuat sapu dari serabut ini, membeli bahan baku dengan harga Rp 20,- per satu kulit kelapa yang belum direndam dan harga Rp 1.000,- untuk satu kulit kelapa yang sudah direndam. Untuk tali tampar seharga Rp 10.000,- bisa dipakai untuk 50 sapu. Harga bambu yang dipergunakan sebagai gagang sapu dibeli dengan harga Rp 300,- per gagang. Keuntungan penjual sapu dari serabut kelapa ini adalah setengah dari modal awal. Modal per sapu serabut kelapa seharga Rp 2000,- dan dijual ke konsumen dengan harga Rp 4000,-.
Dari penjelasan yang telah dipaparkan diatas terlihat bahwa masyarakat Desa Bicabbi memiliki kesinambungan pekerjaan yang mereka tekuni. Dengan memiliki perkebunan siwalan masyarakat pun juga berwirausaha dengan memproduksi gula siwalan. Terkait dengan keberlangsungan usaha yang ada di Desa Bicabbi, usaha-uasaha kecil yang ada di Desa belum seluruhnya memiliki ijin usaha seperti SIUP maupun TDP. Hal tersebut dikarenakan bentuk usaha yang masih perorangan dan skala pemasaran serta proses produksi yang masih tradisional. Masyarakat masih menganggap belum membutuhkan perizinan semacam itu. Menurut kepala Sub Bidang Penetapan dan Penerbitan Izin, Bapak Kukuh Agus Susyanto, SE, MH menyebutkan bahwa idealnya sebuah usaha memang harus memiliki izin usaha, akan tetapi jika usaha yang dilakukan masyarakat masih dalam skala pemasaran kecil (lokal dalam pasar) dan alat produksi yang digunakan juga masih tradisional maka masih dapat dikatakan aman meski tanpa perizinan.    


Forum Diskusi Bersama Perangkat Desa Bicabbi


Jum'at, tepatnya tanggal 15 Juli 2016 pertemuan pertama dengan perangkat pemerintahan Desa Dungkek di Balai Desa Dungkek. Adapun dalam agenda tersebut adalah silaturahmi, perkenalan, dan presentasi program kerja KKN kelompok 48 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kepada perangkat desa. Program kerja utama yang di perkenalkan oleh kelompok KKN 48 UTM pada perangkat desa yaitu mengenai pengonsepan bukit wisata dengan program kerja pendukungnya yaitu pembuatan kerajinan Desa Dungkek.  Terdapat pula pelatihan Bahasa Inggris dan tari tradisional serta pelatihan komputer untuk warga Desa Dungkek. Ditambah dengan mengadakan bimbingan belajar kepada anak-anak warga Desa Dungkek. Respon yang baik pun ditunjukkan oleh perangkat Desa Dungkek dan terlihat mereka sangat menerima kedatangan kelompok KKN 48 Universitas Trunojoyo Madura di desa ini.


STRUKTUR KEPEMIMPINAN DESA BICABBI KECAMATAN DUNGKEK KABUPATEN SUMENEP

Struktur Kepemimpinan Desa Bicabbi tidak dapat lepas dari struktur administratif pemerintahan pada level di atasnya. Hal ini dapat dilihat dalam struktur bagan bawah ini :


NAMA PENGURUS BADAN PERMUSYAWARATAN
DESA BICABBI KECAMATAN DUNGKEK KABUPATEN SUMENEP

Sumber : Monografi Desa Bicabbi Kecamatan Dungkek

NAMA-NAMA LEMBAGA, KADER, DAN TOKOH
DESA BICABBI KECAMATAN DUNGKEK KABUPATEN SUMENEP

Sumber Daya Alam Desa Bicabi Dungkek Sumenep



Desa Bicabi merupakan suatu desa dengan luas 3,80 km2. Wilayah daratan lebih besar dibandingkan dengan wilayah perairan. Sebanyak ±85% merupakan wilayah daratan dan sisanya merupakan wilayah perairan. Wilayah daratan Desa Bicabi sebagian besar berupa wilayah perkebunan, perdagangan industri kecil perikanan, pemukiman penduduk, pertokoan, dan sekolahan. Wilayah daratan ini sangat berpotensi dalam pengembangan perekonomian masyarakat Desa Bicabi. Banyaknya perkebunan pada Desa Bicabi dapat mendorong perekonomian masyarakat, karena adanya berbagai macam tanaman dalam perkebunan yang dapat dimanfaatkan sebagai potensi perekonomian warga.
Tanaman-tanaman dalam perkebunan tersebut antara lain berupa pohon siwalan, pohon kelapa, berbagai tanaman kacang, pohon pisang, pohon bambu, singkong dan jagung. Tanaman yang paling mendominasi perkebunan di Desa Bicabi adalah pohon siwalan dan pohon kelapa, kedua pohon ini sangat dimanfaatkan warga desa sebagai penunjang perekonomian warga. Pohon siwalan dapat dimanfaatkan dalam pembuatan gula merah dan diambil sebagai buah siwalan. Masyarakat desa Bicabbi mayoritas membuat gula merah dengan skala industri rumahan dengan menggunakan alat yang masih sangat tradisional. Alat yang digunakan hanya berupa tungku dari tanah dan wajan. Sedangkan pohon kelapa dimanfaatkan mulai dari buah, daun dan serabutnya. Buah kelapa dapat dijual buahnya secara langsung, daun kelapa dimanfaatkan lidinya sebagai sapu lidi, sedangkan serabut kelapa dijadikan sebagai bahan baku pembuatan sapu lantai. Penjualan sapu lidi yang dihasilkan sudah sampai ke Bangkalan dan Surabaya. Kacang-kacangan disini juga banyak ditanam oleh masyarakat seperti kacang koro dan kacang pohon. Kacang koro biasanya dimanfaatkan sebagai sayuran untuk yang masih muda dan untuk yang sudah tua dijual dan biasanya dijadikan sebagai kacang goreng. Sedangkan, kacang pohon hanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sayuran saja.
Wilayah perairan yang menempati wilayah yang cukup kecil juga dapat menjadi potensi bagi masyarakat Desa Bicabi dengan adanya kekayaan laut yang ada. Potensi wilayah perairan tersebut berupa adanya berbagai potensi ikan laut dan rumput laut. Ikan laut berupa ikan teri, udang, ikan kerapu, dan ikan pari-pari yang melimpah di wilayah Desa Bicabi merupakan potensi yang dapat dikembangkan khususnya bagi masyarakat nelayan dan industri kecil. Pengambilan ikan dilaut masih dilakukan secara sederhana yaitu dengan perahu kecil dan menggunakan jaring. Hasil ikan yang didapatkan oleh nelayan tidak tetap karena tergantung dengan musim yang ada, terkadang ikan yang didapatkan hanya sedikit begitupun sebaliknya. Hasil laut yang paling dominan di desa Bicabbi adalah ikan teri. Ikan teri yang didapatkan biasanya diolah dengan cara dikeringkan. Dan penjualan dari ikan teri ini sudah sampai ke luar negri. Selain itu, rumput laut juga mampu menjadi potensi perekonomian warga Desa Bicabi dengan mengembangbiakan rumput laut yang memiliki nilai jual tinggi.
Sumber daya alam yang melimpah di Desa Bicabi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien guna menunjang perekonomian masyarakat. Banyak potensi-potensi sumber daya alam  yang dapat dikembangkan masyarakat. Adanya potensi sumber daya alam yang melimpah tersebut merupakan faktor utama kesejahteraan masyarakat Desa Bicabi untuk dimaksimalkan.

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: Support@templateism.com

Our Team Memebers